Akhir Mei lalu saya berkesempatan untuk bertandang ke Balikpapan sehubungan dengan diselenggarakannya PIT POGI ke XVII disana. Pertama kali menjejakkan kaki di Sepinggan…hmm ternyata ga berbeda jauh y dengan Jakarta. Pemandangan yang cukup menghibur justru sesaat sebelum landing, lumayan! tersaji view laut yang beriak lengkap dengan perahu-perahu berukuran mini, cukup untuk membius sekaligus mengalihkan sedikit rasa takut saya.
Keluar dari bandara menuju Gran Senyiur…saya disajikan deretan ruko-ruko kecil yang mengingatkan saya pada salah satu daerah perniagaan di Jakarta Barat. Hanya saja harus diakui tata letaknya masih lebih baik dari Jakarta. Hal yang justru paling terasa adalah Balikpapan terasa lebih lapang ya..sepanjang saya berkeliling-keliling di sana saya tidak melihat penumpukan manusia seperti di Jakarta. Maklum, akhir2 ini saya agak mumet sama ruwetnya kota Jakarta apalagi bagi pengguna transportasi umum seperti saya, hrs nunggu angkot, terjebak macet, ngantri busway smp berdesak2an berebut tempat duduk, lho ko’ mlh ngeluh y he2x.
Back to balikpapan.. dari segi kebersihan sepanjang penglihatan saya, kayanya ga’ ada tuh sampah2 yang bertebaran di pinggir jalan padahal saya juga ga banyak melihat tempat sampah lho yang disediakan..wah hebat juga masyarakat dsn! Kelancaran lalu lintas disana juga bikin saya sedikit iri, meski ada antrian namun sebatas di lampu merah..ini sih masih wajar!
Dari segala hal yang saya temui itu, saya jadi teringat sepotong pertanyaan dari kakak saya beberapa minggu sebelumnya, mi pernahkah km terpikir untuk mencoba mencari penghidupan dan menetap di kota kecil yang lebih ramah ritme kehidupannya? dulu saya hanya menanggapinya sepintas lalu, maklumlah saya belum lama terjun di dunia kerja. Namun menengok kehidupan di beberapa kota yang tampak tentram dan teratur, tak bisa dipungkiri kalau saya cukup tergiur (wajar kan pemikiran saya?)
Sehari sebelum meninggalkan balikpapan. Tim kami menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat wisata terdekat. Sayang waktu kami habis untuk menunggu antrian city check in di Garuda untuk menghindari pemindahan jadwal secara semena-mena yang sempat dialami salah satu rombongan kami . Dengan waktu yang relatif singkat, kami menargetkan kunjungan hanya ke 2 tempat, berhubung di hari kedua kami sempat melayat ke lembah Dubbs yang asri dan tugu pahlawan. Jadilah pasar kebun sayur sebagai tujuan pertama kami, namun mengingat sebagian besar rombongan kami adalah ibu2 atau “calon ibu2″
dengan dalih mencari buah tangan jadilah kami keasyikan belanja sampai lupa waktu (kayanya kami salah strategi deh he2x), alhasil kami baru bisa beranjak ke tujuan kedua menjelang Ashar itupun harus dipotong makan siang!
Alhamdulillah masih punya kesempatan untuk menikmati senja di pantai Manggar.. meski tak sebiru pantai di Jawa tapi saya cukup terpukau dengan pasar putih yang cukup luas terhampar. Bahkan di sisi kanan kami tampak sekelompok pemuda yang asyik bermain bola. Karena mungkin hari telah beranjak sore..sepanjang bibir pantai tidak tampak pedagang yang hilir mudik jadi kami bisa menikmati suasana pantai dengan syahdu… Sayangnya pantai Manggar tidak menghadap ke Barat, jadi saya tidak berkesempatan menikmati saat-saat mentari masuk ke perut laut, namun sebagai gantinya kami disuguhkan guratan pelangi yang indah..Subhanallah ..saya coba mengingat-ingat kapan moment terakhir saya melihat pelangi (maklum pelangi, sudah menjadi fenomena langka di Jakarta mungkin akibat tingkat polusi yang tinggi y). Senja di pantai dengan hiasan pelangi sebagai latarnya merupakan pelengkap hari saya yang sempurna..
Fabiayyi’alaa irobbikuma tukadziban
(nikmat Allah mana lagi yang dapat kau dustakan…)



