Lho..ko bisa dikasih kegagalan malah seneng?Iya dong..berarti saya dapat training kehidupan lagi. Gratis pula! Gagal tidak melulu harus diisyaratkan sebagai mega hitam yang mencekam tapi dibalik itu saya percaya pasti ada kilau keberhasilan yang menanti saya. Kegagalan selayaknya api yang akan menempa sendi-sendi kedewasaan.
Tanpa ada firasat sebelumnya (he2x..saya itu org yg optimis!jadi bawaannya pede aja), sesampainya di rumah saya disambut dengan kabar kegagalan aplikasi ADS saya. Biar lebih imajinatif, kira2 begini petikannya:
Mama saya: (dengan gaya betawi yang polos) “ Itu…tadi ada tukang pos nganterin surat apa tuh bahasa inggris mama mah kaga’ ngerti, ya udah ditanyain ke Aja (kakak ke2 saya) ..eh taunya kuaga’ dapet.! Ya..mama lemes.”
Saya: JLEG…(duh niy orang rumah..emang kurang paham teknik psikologis, empati dikit kek masa orang pulang capek2 langsung diguyur berita buruk gini.)
Saya: Masih speechless…(demi melihat kekecewaan yang menggelayut di muka mama dan kakak perempuan saya, sontak saya bersuara dengan gaya cengengesan)
“Ya…namanya juga udah usaha ma…kan emang udah mimi ceritain kalo peminatnya banyak..hebat2 lagi,biasanya emang butuh ikhtiar lebih sampai tahunan malah buat ngedapetinnya (ko jadi kebalik gini ya..siapa yg mestinya dihibur sebenernya he2x)”.
Mama saya: gantian speechless…masih dengan muka ngenes
Maafkan anakmu ini ma….
Saya paham mimpi mengejar master tidak hanya milik saya seorang namun sudah menjadi impian keluarga saya seutuhnya..bahkan ini telah menjadi pesan terakhir Almarhum Bapak ke saya (Jadi kangen bapak
).
Siapa sih yang ga pengen ngeraih impian secepatnya? Saya percaya kegagalan ini berarti bahwa saya memang belum layak mendapatkannya. Pasti di luar sana, ada orang yang lebih dari saya.. ya lebih ikhtiarnya, lebih khusyu dan rajin doanya, serta yang paling penting lebih mulia niatannya. Saya jadi berintrospeksi..jangan2 niat saya sudah terkorosi oleh ambisi indivudualis saya saja..jangan2 saya hanya sekedar mengincar gelar, padahal tujuan si pemberi beasiswa tentunya menginginkan pengabdian yang konkret bagi masyarakat. Naudzubillahi min dzalika… sekarang saatnya bagi saya untuk kembali meluruskan niat.
Kembali kepada konsep kegagalan, saya meyakini bahwa kualitas seseorang justru terlihat dari caranya menyikapi tantangan(baca:ujian) di depannya, entah itu yang bermuka manis serupa keberhasilan maupun yang bermuka masam serupa kegagalan. Dalam konteks kegagalan, ada tiga kemungkinan yang bisa terjadi.
Pertama, si trainee (ingatlah kegagalan sebagai rangkaian pelatihan) akan sangat terpukul, diiringi rasa percaya diri yang terjun bebas, dan pada akhirnya memutuskan untuk mundur dari area persaingan, kita menyebut orang seperti ini sebagai orang yang celaka atau yang lebih sadis lagi digelari looser alias pecundang.
Kemungkinan kedua, sedih sesaat lalu menyadari dirinya tidak kompetitif dan memutuskan untuk melanjutkan hidup tanpa mengikutkan kembali impian tadi dan mencari lahan garapan lain yang lebih rasional, kita menyebutnya sebagai golongan orang yang merugi alias jalan di tempat.
Nah golongan yang ketiga merupakan tipe yang digelari juara, yang mampu melampaui rangkaian training dengan prestasi outstanding! Dia bisa memerah sari manis dari buah yang pahit sekalipun. Dia bisa mencuri pelajaran mengenai kesuksesan dari kegagalan yang didapatnya dan dia tidak akan melungsurkan niatnya sebelum tertawar oleh kesuksesan.
Saya jadi tergoda untuk memflash-back beberapa kegagalan yang saya alami belakangan ini. ADS merupakan apply beasiswa saya yang kedua setelah IIEF yang juga ditolak pada tahap I. Tahun ini merupakan tahun pertama saya memberanikan diri untuk mulai mengajukan beasiswa. Lesson learnednya…saya sudah berani memulai, bukankah tahapan yang tersulit justru pada saat memulai sesuatu kan?
Tahun ini saya juga ikut beberapa tes CPNS, yang pertama Bappenas saya harus berlapang dada tidak lolos short list tahap 1 karena IP saya yang tidak sampai Cumlaude. Saya sempat protes karena kualifikasi yang diminta terang2an IPK lebih dari 2.75. Kembali saya berhusnudzon mungkin Allah punya kejutan yang lebih manis. Tak lama berselang saya memberanikan diri mengajukan lamaran CPNS, kali ini BKKBN. Seleksi administrasi lolos, tapi ketika hari H tes saya menemui hambatan hingga terlambat nyaris 45 menit, Alhamdulillah saya masih diberi dispensasi! Meski belum tau hasilnya tapi saya senang masih berkesempatan ikut tes.
Berbekal kepercayaan diri saat BKKBN, saya mengajukan diri untuk Depkes lowongan yang paling saya idam2kan. Ternyata kembali saya harus menelan pil pahit, saya tidak lolos administrasi! Berembus kabar kalau spesifikasi peminatan SKM skrg lebih diketatkan padahal saya sudah mepersiapkan diri jauh2 hari dengan menekuni buku2 soal di waktu luang saya. Seketika kekecewaan memenuhi rongga dada saya, hati kecil saya berbisik.. Ya Allah kenyataan apalagi yang Engkau siapkan? Allah Maha Mendengar belum lama berselang dari kepastian tidak lolosnya saya, 30 menit kemudian saya mendapat kabar pembukaan CPNS di kota tempat saya tinggal. Allahu Akbar!! Meski saya juga belum tau hasilnya sekarang namun saya puas waktu belajar yang saya habiskan tidak sia2.
Terngiang untaian SMS nan indah dari seorang sahabat: Tabir yang memisahkan kita dengan keberhasilan adalah keputusasaan..Sungguh, jika kita dapat membuka itu maka dengan izin Allah, kita akan mencapai banyak kebaikan”
Semoga saya bisa menyikapi kegagalan ini secara positif dan menjadikan moment ini sebagai titik balik ikhtiar saya dan berbuah keberhasilan pada akhirnya. Terkenang masa dulu saya diserang keresahan detik2 menunggu pengumuman kelulusan SMA (zaman itu sarat dengan isu2 yang meresahkan dengan standar kelulusan yang baru), dengan suara lembut Alharhum Bapak saya berkata, “Sudahlah..kamu coba tawakal sama Allah..toh kamu sudah melakukan yang terbaik. Kalaupun gagal..kamu harus ingat berapa banyak keberhasilan dan kemudahan yang pernah kamu dapat tapi bahkan mensyukurinyapun kamu lalai..mungkin kali ini Allah ingin mengingatkan kelalaian kamu..Bapak ga pa pa”. Nyes!!kata-kata Bapakku itu begitu mujarab langsung mendinginkan hatiku. Mungkin kata-kata itu sederhana, tapi mengingat yang mengucapkannya adalah seseorang yang merampungkan SDpun tidak, kata-kata itu begitu indah mengalun di telingaku. Aku yakin jika beliau ada disini sekarang, beliau juga akan mengatakan hal yang sama…
”Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai mereka mau merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri (QS. 13:11)”
Tetap Semangat Mimi !!!
putrinegriangan berkata,
Desember 26, 2008 @ 2:29 pm
ALLAH pasti mengabulkan doa hambaNYA.. Kalau belum dikabulkan juga, berarti ALLAH sedang menyiapkan yang terbaik.. Insya ALLAH, amin..
Salam kenal dari Negri Angan!
catatanhatimimi berkata,
Januari 21, 2009 @ 5:49 am
Waduh, maaf ya mba putri baru sempet direspons…
seneng deh da yang kasih motivasi
Ada kejutan manis yang tengah dipersiapkanNya untuk saya
Insya Allah..
Salam kenal juga mba putri